Pilihlah Cintamu, Cintailah Pilihanmu (Irine Yunila)

Alkisah sebuah cerita tentang “Sukardal” yang saya kutip dari sebuah buku menceritakan perjalanan hidupnya. “Sampai larut malam, orang tua yang kurus dan hitam bernama Sukardal itu belum juga dapat memicingkan matanya diatas balai-balai bambu di gubugnya yang reot. Maklum becak yang ia kayuh ke sana-sini sampai jam 22.00 hanya menghasilkan uang Rp. 1.500,- memang uang ratusan rupiah sekarang susah diburu pikirnya. Angannya melayang jauh. Untuk makan tiap hari, satu-satunya modal adalah becak butut yang setiap hari dikayuhnya. Malam itu, keempat anaknya terlihat dalam keadaan setengah bangun, maklum perutnya hanya terisi seperempat, itu pun hanya singkong rebus. Tidak lebih dari satu jam ia tidur, subuh ia harus bangun mengayuh becaknya memburu rupiah demi rupiah. Diteguknya air panas dicangkir seng tanpa teh dan gula, sekedar air putih untuk penghangat perut. Sukardal menggenjot becaknya meninggalkan gubung reotnya. Waktu itu awal bulan Juli 1986, becak sudah dikayuh ke segala arah, rasanya sial melulu. Sampai jam 22.00 disaku kumalnya hanya ada selembar uang ribuan. Dia memaksa kembali untuk menarik becak sampai tengah malam demi uang tambahan. Dijalan yang sepi ia bertemu dengan Pak Yayat.

“Hai… tau nggak kalau becak tengah malam hari harus pakai lampu?!” bentak Pak Yayat.

“Ya Pak, saya mohon maaf. Sekarang saya mau pulang”, kata Sukardal dengan nada minta ampun.

“Maaf.. maaf.. apa?! Tukang becak tak tahu aturan!”, bentak Pak Yayat sambil menendang dada Sukardal.

“Naikkan becak ini ke mobil..!”, perintah Pak Yayat.

“Ampun pak.. ampun becak saya ini jangan diangkut.. ini satu-satunya gantungan kehidupan keluarga saya”, pinta Sukardal dengan liangan air mata.

Becak tetap diangkut, Sukardal tertunduk dan termenung menahan sakit. Sakit didada dan bahunya tak berarti, jantung dan harga dirinya tak ternilai. Sukardal mengingat Yani, Hindasih, Margaeni dan Yoyo anak-anaknya. Mereka menanti dengan doa agar bapaknya mendapat rezzeki, tak terkira Sukardal hanya mendapat hinaan, derita dan siksa.”

Manusia lahir tidak dapat memilih. Tidak dapat memilih dimana harus lahir, orang tua yang mana, entah lahir dalam keluarga miskin atau kaya, itu bukan kehendak kita manusia. Bila direnungkan, kita lahir di dunia bukan suatu kebetulan, namun sebuah panggilan. Kita hidup dan tak usah diragukan. Badan dan lima indera yang kita miliki cukup untuk memberikan tanggapan terhadap sesuatu, memberi kepastian bahwa kita hidup. Kesadaran kita bahwa hidup dan ada bukan khayalan dan bayangan. Tak ada mausia di dunia ini yang mendapatkan segala yang dikehendakinya. Ia tetap harus mengunyah suka dan duka hidup ini. Hidup ini perlu menyadari makna sesuatu. Barang dapat dicari maknanya dengan membedakan dengan yang lain, demikian pula dengan kejadian serta kehidupan. Tanpa menyadari maknanya orang biasa bingung dan linglung, ragu apa yang harus diperbuat. Makna dapat dihayati dan tidak perlu harus menjalaninnya. Kehidupan kita akan terus berjalan. Seiring perjalanan hidup ini terdapat banyak pilihan. Saat bimbang akan pilihan tentu kita menjadi ragu dengan apa yang akan kita jalani. Namun, ragu atau tak ragu tetap kita harus memilih. Pilihan kita saat ini entah pendidikan, profesi, pasangan, atau apa pun itu adalah yang terbaik yang harus kita jalani. Saat kita memilih berarti kita harus “total” menjadi miliknya dan yang kita pilih menjadi milikku. Cintai semuanya dengan hati tulus, karena mereka akan membantu kita mencapai sukses hidup ini. Hayati setiap langkah hidup karena mereka akan menjadi jalan disetiap alur hidup ini. Maknai dengan cinta karena mereka akan membuat kita bahagia. Tetapkan, mantapkan dan pilihlah cintamu, cintailah pilihanmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *