How to Maintain Good Relation (Saila Azkiya)

“relationship are the foundation of everything you are trying to achieve”
Ricard G. Stieglitz dalam bukunya Leadership Conversations.
Ya kita semua tahu bahwa dengan memiliki banyak relasi berarti kita telah selangkah lebih maju dalam berinvestasi untuk masa kini dan nanti. Bagi anda yang future oriented, relasi menjadi bagian yang penting dan tak terpisahkan dari planning masa depan. Seperti yang dilansir dalam wolipop detik.com menyatakan bahwa relasi dalam berkarir merupakan poin utama menuju kesuksesan. Sudah tidak diragukan lagi bahwa anda yang master of public speaking lulusan ISPS (Indosat School of Public Speaking) memiliki banyak relasi. Relasi disini tidak sekedar relasi namun relasi yang baik “good relation” yang artinya relasi yang bermanfaat. Baik untuk investasi karir masa depan, teman curcol (curhat cucok pol), hutang pulsa, numpang makan di tanggal tua, makcomblang perjodohan maupun teman yang saling menasehati dalam kebaikan. Baik itu dengan teman kerja, teman organisasi, dosen, senior di rumah sakit, tante, sepupu, tetangga, maupun anak tetangga yang sering anda modusin. #‎huahaha
Menjalin good relation itu sulit, namun mempertahankannya jauh lebih sulit. Seringkali berbagai macam permasalahan muncul dalam good relation yang telah terjalin. Kadang hal ini menjadi kendala yang berarti, sehingga pada akhirnya memutus good relation yang telah susah payah dibangun.

Ada 3 “poin” untuk menjaga konsistensi good relation kita. Terlebih ketika badai menerjang. Agar …ingat aku kan slalu setia menjagamu… #huahahalet’s ckidot!

1. One thing is nothing

Teman anda tentunya memiliki kekurangan. Nobodys perfect kan yah. Itulah mengapa kita harus pandai pandai melihat kebaikannya. Melihat pribadinya secara keseluruhan bukan hanya terfokus pada one thing. Jangan fokus pada satu hal yang membuat kita kesal, benci, atupun membuat kita punya alasan untuk memutuskan good relation yang telah terjalin. Ajahn Braham dalam bukunya Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya menceritakan satu kisah tentang seseorang yang membuat tembok. Dia menyusun satu persatu batu batanya. Detik berganti menit, menit berganti jam dan jam berganti…mobil. Ehhh jam berganti hari maksutnya. Hingga padakhirnya tembok selesai dibangun. Namun orang tersebut malah bersedih karena melihat ada satu bata bata yang melenceng tidak tertata rapi. Ia melihatnya terus dan terus hingga pada akhirnya Ia berfokus dan hanya bisa melihat satu batu bata melenceng itu dalam temboknya. Kadang dalam hidup kita sering hanya melihat satu kekurangan pada diri seseorang. Kita melihat kekurang tersebut menjadi hal besar yang patut untuk dipermasalahkan. Patut untuk memutus good relation yang telah terjalin. Ahhh apa artinya satu batu bata melenceng dibandingkan ratusan bahkan ribuan batu bata lain yang tersusun indah. Itulah kekurangan, namun jika kita melihatnya secara bijak one thing is nothing.
2. See the funniest not the worst
Akan ada saatnya teman kita melakukan kesalahan. Melakukan hal hal yang seharusnya dapat membuat kita marah dan kecewa padanya. Namun alangkah bijaknya jika kita coba melihat “the funnies” nya. Saat anda duduk di samping teman anda untuk makan siang beberapa detik kemudian dia tidak sengaja menumpahkan jus strawberry nya ke smarthone anda. Huaaaaaa… STOP jangan langsung marah dan menghujatnya. Cukup tarik nafas, ambil smartphone anda lalu bershikan. Sembari memberikan senyum manis pada teman anda tanda “aku rapopo” lihatlah kelucuan dari peristiwa tersebut. Kenyataannya ketika dia melihat jusnya tumpah alih alih segera menarik gelas jusnya dia malah mengucap latah sambil memegangi kepalanya dan membiarkan lebih banyak lagi jus yang tumpah. E tumpahh tumpah e tumpah…dan…. semua mata tertuju padamu, eh tertuju padanya. Just see the funniest not the worst.#huahaha
3. Never think your glasses is the right one
Loh kenapa lo sama kacamata ku? bukan, ini bukan maslaah kacamata secara harafiah. Kacamata disini bermakna perspektif yang sering kita gunakan untuk menilai perilaku orang lain. Memang oleh Tuhan kita diberikan kemampuan untuk dapat berpendapat dalam menilai seseorang, namun tuhan juga membekali tiap tiap diri kita dengan kebijaksanaan. Pernahkan good relation anda yang telah lama terjalin tiba- tiba rusak karena ketidak sefahaman pendapat? Atau teman anda melakukan kesalahan? Yang mungkin fatal menurut anda? Pernahkan teman anda melakukan suatu hal yang melanggar nilai dan norma? Pernahkah anda memiliki teman yang sangat keras kepala dalam mempertahankan sesuatu yang salah? Atau pernahkah anda memilih untuk memutuskan good relation hanya karena malu melihat sosok teman anda yang sekarang sudah berubah tidak seperti dulu lagi? Dalam menjalin good relation tentunya pernah kita temukan permasalahan- permasalahan seperti diatas. Lalu bagaiman anda menyikapinya? Sertamerta menghakiminya sembari berusaha menjudge kesalahannya? Atau mendoktrinnya dengan nilai- nilai yang anda anut? Woles guys, take it simple. Never think your glasses is the right one. Every single person have his own principle. Jika teman anda melakukan kesalahan jangan serta merta menjudgenya. Bisa jadi yang dia lakukan terlihat salah dalam kaca mata kita namun sesungguhnya benar dan benar-benar BENAR. Kadang keegoisan kita lebih mendominasi saat menghakimi orang lain. Mari lebih mawas diri, kita toh bukan Tuhan yang pantas menghakimi. Kalau kata Bondan Prakoso dalam lagunya Gusti Dewata Mulia Raya “ada alasan untuk setiap langkah”. Dan itu memang benar. Selalu ada alasan atas apa yang dilakukan. Lihat lebih dalam dan temukan kebijaksanaan dalam menyikapinya.Imam Ghozali berkata “Ilmu tanpa amal adalah gila dan pada masa yang sama, amalan tanpa ilmu merupakan suatu amalan yang tidak akan berlaku dan sia- sia”. Mari bersama kita menjadi pribadi yang lebih baik. Pribadi yang tidak hanya kaya dengan good relation namun juga mampu menjaga konsistensinya (istiqomah). Selalu melihat relasi kita secara penuh bukan hanya kekurangannya karena “one thing is nothing”. Selalu melihat hal lucu yang muncul dalam setiap kekacauan yang ada “see the funniest not the worst”. Selalu melihat dengan bijaksana setiap perilaku relasi kita “never think your glasses is the right one”.
***
Go Dong #10 @sailaazkiya ISPS Indosat School of Public Speaking 2015
Saila Azkiya
S1 Universitas Negeri Surabaya
S2 Universitas Airlangga

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *