Bangkitlah Pemuda (Maylingga Vainggita Muharrom)

Dua Puluh Delapan Oktober, 88 tahun yang lalu. Diketuai oleh Soegondo Djojopoespito, pemuda-pemuda di seluruh Indonesia dikumpukan menjadi satu. Bersatu, dalam sebuah kongres yang kini kita kenal dengan nama Sumpah Pemuda. Dari beragam suku, ras, agama berkumpul menjadi satu karena suatu keinginan yang sama. Menyatukan seluruh organisasi kepemudaan di Indonesia untuk memudahkan proses pencapaian kemerdekaan Indonesia. Cara yang mereka pakai untuk meraih kemerdekaan Indonesia berbeda dengan yang sebelumnya, mereka memilih menggunakan cara “aman”. Mereka menggunakan cara “aman” bukan karena takut untuk berperang. Tetapi mereka tahu, cara perang merupakan cara lama yang usang dengan tingkat efektifitas dan keberhasilan yang rendah saat itu. Mereka merasa perang tidak lagi menjadi cara mereka, mereka merasa perang hanya akan merugikan mereka, mereka merasa kalau cara “aman” merupakan cara efektif untuk mempersatukan seluruh pemuda Indonesia saat itu.

Hal yang sama, berlaku saat ini. Efektifitas aksi turun ke jalan yang sering dilakukan oleh pemuda Indonesia sudah tidak efektif lagi. Dengan tingkat keberhasilan menyampaikan pesan yang minim, aksi turun ke jalan justru malah efektif menimbulkan kemacetan di jalan. Cara aksi turun ke jalan merupakan cara lama yang usang dan sudah ditinggal jaman. Cara ini efektif pada 1998. Dimana pemuda bersatu untuk menurunkan rezim yang bermasalah, saat itu. Solusi paling efektif untuk pergerakan pemuda saat ini menurut saya adalah dengan berkarya. Lihat Widji Thukul, sebuah nama sederhana yang tentunya akan selalu kita kenang dalam lembar sejarah hitam negara ini. Seorang anak tukang becak yang menjadi pemuda berbahaya di mata penguasa. Apa karena dia turun ke jalan lalu protes sambil bakar ban? Tidak. Widji Thukul melakukannya dengan elegan, beliau berkarya. Tulisan-tulisannya dianggap berbahaya oleh pemerintah. Karena pemerintah tahu, ada yang salah dalam pemerintahan dan ada yang mengetahui permasalahan itu lalu mengkritisinya, lewat sebuah media bernama karya. Bahkan dalam pelariannya, Widji Thukul masih menyempatkan menulis kritikan terhadap pemerintah. Hingga pada tahun 2000, istrinya melaporkan hilangnya Widji Thukul ke KONTRAS. Raga beliau hilang, tetapi karyanya masih kita kenang.

Lalu, apa yang membuat pemuda sekarang takut untuk memulai berkarya? Takut akan kegagalan? Kalau pemuda takut gagal mah, 10 November ga bakal jadi Hari Pahlawan, pemudanya meninggal semua hehe. Gak usah takut gagal, karena karya awal akan sangat buruk. Gak ada orang memulai langsung bagus. Kalaupun ada, ngecheat itu mah hehe. Semua itu berproses, termasuk dalam berkarya. Mengutip pernyataan dari Pandji Pragiwaksono “Sedikit lebih beda lebih baik daripada sedikit lebih baik”. Pernyataan itu terbukti di sumpah pemuda, dll. Maka dari itu, mari kita berkarya bersama. Berkaryalah untuk menyuarakan suara kalian dengan elegan. Karena dengan karya, kalian akan lebih dihargai daripada bakar ban di jalan. Dengan karya, kalian dapat bersuara dengan elegan. Dan dengan berkarya, kita bangun bangsa bersama-sama.

Kenapa saya berani menjamin karya merupakan cara paling efektif? Jawabannya simple, karena saya udah nonton Juru Bicara World Tour. Dan ilmu paling penting dari show itu sudah saya share sedikit disini. Berkarya.

Pemuda Indonesia, mari kit berkarya untuk membangun bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *